Berbagi Bersama Menjadi Hidup Lebih Bermakna

Ana Khairani CEO Start-up Wanita Pertama Dari Indramayu

Ana Khairani CEO Start-up Alvalva


Wanita Indramayu itu sebenarnya mempunyai potensi luar biasa, tidak hanya sebagai ibu rumah tangga. Tetapi ada juga wanita-wanita Indramayu ternyata mempunyai kemampuan lebih bahkan bisa menjadi salah satu CEO (Chief Executive Officer) perusahaan Start-up (Rintisan).

Salah satu CEO wanita yang berasal dari Indramayu yang kini menjabat sebagai CEO dari start-up berbasis aplikasi pertanian bernama Alvalva adalah Ana Khairani. Dia bersama rekan-rekan alumni IPB (Institut Pertanian Bogor) lainnya yakni Faizal Firdaussy sebagai COO (Chief Operating Officer), Maryono sebagai CMO (Marketing), Budi sebagai CTO (Chief Technology Officer) dan Endang S sebagai CFO (Chief Financial Officer). 


Tim Alvalva (Foto FB Ana Khairani)
Alvalva sendiri adalah media forum pertanian yang menghubungkan semua aspek pertanian di Indonesia. Aplikasi ini mengajak penggunanya untuk berbagi informasi mengenai pertanian Indonesia dan Dunia dalam genggaman (transformasi pertanian digital) berbentuk platform Agricommerce dan media content. 

Selain itu Alvalva sendiri bergerak dalam bidang aktivitas penelitian dan pembuatan pewarna alami menggunakan bahan-bahan sampah organik seperti sayur-sayuran dan buah yang memiliki warna-warni alami. Sampah-sampah organik tersebut kemudian di esktrak menjadi micro enkapsulasi hingga menjadi pewarna tekstil alami dan juga pupuk alami. 

Selama ini sampah-sampah basah dari sayur-sayuran dan buah-buahan tersebut sering menjadi masalah di terutama di pasar-pasar tradisional baik di kota besar atau di kota kecil di seluruh Indonesia. 

Rani panggilan akrab Ana Khairani ini adalah CEO wanita pertama dari Indramayu ini berasal dari Karangsinom Kecamatan Kandanghaur Indramayu. Alumni SMA Muhammadiyah Cirebon ini juga aktif mengembangkan pemberdayaan bagi kaum perempuan di Indramayu dengan pembuatan batik organik. 


Salah satu batik organik hasil pewarnaan alami 
Batik organik sendiri tidak seperti batik pada umumya karena menggunakan pewarna tekstil alami yang ramah terhadap lingkungan. Karena tren batik organik terus meningkat maka produknya sudah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia dan juga berbagai negara secara online maupun offline. 

Aplikasi Alvalva sendiri rencananya akan dipublikasikan untuk perangkat Android dan iOS. Saat ini aplikasi ini sedang diikutsertakan dalam kompetisi IsoC 2016 (Indonesia Sociopreneur Challenge) dan sudah masuk menjadi semifinalis Idea Stage yang bersaing dengan para changemaker dari berbagai negara lain seperti Tanzania, Selandia Baru, dan Afrika Selatan. 

Related Posts:

Post a Comment